![]() |
![]() |
![]() |
|
#1
|
||||
|
||||
|
Puisi-puisi Ku
Ini khusus puisi-puisiku.. plz.. command na, yaaaaaaaa
|
|
#2
|
||||
|
||||
|
TUK LELAKI BERNAFSU, DARI WANITA KORBANNYA..
kau mau marah? silahkan.. Mau caci maki dirku? ayo, silahkan.. Ada banyak waktu yang tersedia Belum puas? Ludahi saja wajahku ini Dari pada kau renggut harta termuliaku ini Kenapa tidak kau cincang saja sekalian tubuhku ini? Dari pada kau rampas kehormatanku Yang selalu ingin ku pertahankan Aku memang wanita lemah Tak punya rudal tuk hancurkan nafsu iblismu Tak punya geranat tuk ledakkan kegilaanmu Juga tak punya lemari es untuk bekukan tingkah liarmu Hanya satu yang ku punya Yaitu pendirianku Ingatlah selalu bahwa.. "AKU MENCINTAIMU TUK BAHAGIAKANMU. AKU MENYAYANGIMU TUK TENTRAMKAN HATIMU. DAN, BILA SUATU SAAT NANTI AKU MEMBENCIMU, ITU BUKAN BERARTI AKU INGIN MENYAKITI HATIMU.." love you.. my babe.. |
|
#3
|
||||
|
||||
|
Dari Ian Tuk Rea
INGAT KAU LAGI
T'lah ku coba tuk melupakanmu Namun akhirnya ku ingat lagi Mungkin Tuhan tak berkenan memisahkan kita Walau pun kau masih tak bisa mencintaiku Andrea.. Cinta ini begitu luar biasa mengikat hatiku Untuk selalu adakan tempat bagimu Tiada cinta yang lain Yang mampu merasuki jiwaku Ketika ku coba tuk hapus dirimu Aku tak mampu lakukan itu Sungguh ku selalu ingat kau Bila ku sedang sendiri Bayangan dirimu buat ku rindu Andrea.. cintailah aku.. Seperti diriku yang mencintaimu Aku tau ku t'lah berdua Namun hanya kau yang ku cinta Hanya kau yang mampu Membuatku jatuh cinta seperti ini Andrea.. Tak mampu ku lupakan dirimu Kenangan indah kita berdua Tak kan pernah terhapus Sampai.. ku.. mati. I love you, Re.. |
|
#4
|
||||
|
||||
|
CINTA TAK HARUS MEMILIKI
Aku mencintaimu Dengan seluruh cinta yang ku punya Tanpa ku lihat siaba dirimu sebenarnya Ku mencintaimu apa adanya Bila memang perbedaan tak mampu menyatukan Dan kau tak bisa bahagia denganku Aku rela kau bersamanya Karena cinta tak harus memiliki Ku sadar betul siapa diriku Tak pantas bersanding denganmu hanya karena cinta Bahkan mungkin cintanya lebih besar dariku Aku rela, aku ikhlas melepasmu untuknya Ku yakin kau pasti bahagia dengannya Karena kau mencintainya Aku kan bahagia, kan merasa bangga Bila kau bahagia |
|
#5
|
||||
|
||||
|
PANDANGAN PERTAMA
Malam itu bulan bersinar terang Bintang-bintang pun tak mau kalah kemilau Walau pun dingin dan mau hujan Mereka tak menyerah... Payung cintamu siap menanungiku Melindungiku dari derasnya hujan Mantel kasihmu menghangatkan aku Sentuhan sayangmu tak ingin aku basah kuyup Ingatkah kau saat pertama kita bertemu Memang benar, dari mata pasti turun ke hati Pandangan pertamamu memanah hatiku Dengan panah asmara... |
|
#6
|
||||
|
||||
|
BUATLAH AKU TERTAWA
Ku tau driku lemah Tak mampu melawan duka Hanyalah air mata Menghiasi wajahku... Masa lalu itu membunuh mentalku Mengubur semua harapanku Memutuskan jalanku menuju masa depan Kehadiranmu mengubah hidupku Di tengah badai kau nyalakan lilin harapan Cahaya cinta bersinar bagai bulan Buatlah aku tersenyum Buatlah aku tertawa Terimakasih atas segala ketulusanmu Membuatku bahagia Buatlah aku tersenyum Buatlah aku tertawa Bahagiakanlah diriku Terimakasih, kan ku balas dengan cinta sejatiku... |
|
#7
|
||||
|
||||
|
TAK SABAR MENUNGGU
Dalam sibuk ku ingat janjimu Buru-buru ku selesaikan urusanku Segera mandi dan mempercantik diri Hanyalah untuk dirimu Pukul tujuh ku sudah menunggu Ku abaikan malu di depan temanku Berdiri sendirian di tepi jalan Dinginnya.. ku tahan saja.. Sungguh, aku tak sabar menunggu Kau datang tepati janjimu Ingin mengajakku pergi berdua Menikmati malam bermandi cahaya bulan Sudah pukul delapan Namun kau tak kunjung datang Ku coba sabar tetap menunggu Akhirnya sampai pukul sembilan Kau tak datang juga Aku memilih pulang saja karena kedinginan... |
|
#8
|
||||
|
||||
|
AKU BENCI KAMU
Kau pikir, kau ini siapa? Kau tak punya hak permainkan aku seperti ini Ini diriku, milik diriku, bukan untuk kau hina Kau pun tak punya alasan `tuk membenciku begini Seharusnya yang marah itu aku Karena kau permainkan aku Seharusnya yang minta maaf itu kamu Karena yang salah itu kamu Kenapa harus aku yang mengalah? Padahal sudah sering kau menang Kenapa harus aku yang menurut? Padahal setiap hari kau selalu berkuasa Aku benci kamu Ingin ku caci dirimu Namun ku tak berdaya Karena aku pun mencintaimu Aku benci kamu Ingin ku maki dirimu Namun aku tak mampu Karena aku takut kehilanganmu... |
|
#9
|
||||
|
||||
|
HUJAN DI SORE HARI
Ketika debu itu mulai meliputi dedaunan hijau maka kesegaran tidak tampak yang ada kotor dan tak ada asa Begitupun ketika angin mengehembus perlahan tak kuasa menghapus Ia masih tampak dengan jelas...debu-debu yang tak berpengharapan Aku menatapnya dalam keseharian Debu-debu itu semakin lama semakin menebal Hampir semua kesegaran daun itu sirna Tak ada kehijauan yang mengundang kicau burung Bahkan sepoi angin pun tak lagi menyegarkan Aku ingin meraih dengan kekuatanku Aku ingin melompat dengan segenap jiwa Tapi tetap tak dapat kuraih daun itu bahkan hanya sekedar memberi angin barang sedikit untuk mengusir debu, aku tak mampu Sampai akhirnya aku menengadah.... Kubuka kedua telapak tanganku.... Dalam pengharapan yang diselingi keputusasaan Aku kirim setitik air, air murni dari jiwaku yang menjerit Air yang meleleh dari mata batinku, menitik membasahi pipi hingga kuseka dengan telapak tanganku..... Kudendangkan lagu-lagu yang menyebut Keesaan-Nya Kuserahkan jiwa, batin, pengharapaan dan kuadukan keletihan jiwa Dan....ketika jiwaku menyatu dalam air mata Iapun bersuara.....membahana memecah keheningan alam Dia mendengar jeritan jiwaku....dan diapun menangis seperti diriku Dia menjerit menyatu dengan jeritanku..... Seketika air matanya tumpah membasuh bumi yang kupijak Dan seketika itu pula debu-debu sirna....hilang dan musnah Selamat tinggal debu penutup kesucian batin Selamat datang air mata pembasuh jiwa.... |
|
#10
|
||||
|
||||
|
Waktu itu pagi yang ditemani cahya mentari
Menembus pepohonan hijau di beranda rumah kita Agak silau kutatap wajahmu nan ayu... Cahaya itu berjalan menghampiri mata dan relung jiwa dari sela-sela helai rambutmu Engkau tersenyum, cerah, secerah pancaran sinar yang semburat dari tetes embun di dedaunan... Aku masih belia untuk mengerti gelap malam tanpa rembulan ataupun gemintang yang kadang terlalu malas untuk tersenyum. Aku hanya mengerti bahasa kalbu dari senyum mu. Senyuman bak siloka yang tak pernah berakhir... Kau ajarkan aku menatap kerasnya terik sang surya Melalui lelehan keringat yang terseka telapak tanganmu nan lembut Bunda...tak perlu engkau berjalan terlalu jauh hanya untuk senandungkan nada cinta untukku Sudahlah....bahkan samudra itu takkan pernah bisa berangkuh diri dengan kedalamannya dibandingkan cintamu... Seribu bintang takkan bisa melukiskan warna cintamu untukku Aku tahu bunda.... Aku mengerti...telah lama kisah cinta yang kudengar dari burung-burung bernyanyi tentang bagaimana engkau menimangku dengan nada-nada surgawi dari bibirmu Katakanlah bunda.... Apakah engkau marah ketika kuletakkan debu-debu ditelapak kakimu? Aku tak mampu bunda...samudera cintamu yang tak bertepi itu takkan pernah bisa kutebus hanya dengan titik air mataku... Tapi setidaknya bunda....aku harapkan air mataku akan menari hingga membuatmu tersenyum dan memaafkan segala kesalahanku... Katakanlah bunda.... Maukah engkau memaafkanku? ........ Buat Ibu Cinta seluas samudra |
![]() |
| Thread Tools | |
| Display Modes | |
|
|
Similar Threads
|
||||
| Thread | Thread Starter | Forum | Replies | |
| Puisi-puisi Cinta Chairil yang Menggetarkan | Kalina Maryadi | Penulis, Buku, Sastra dan Bahasa | 16 | |
| Puisi [English] | gmon | Penulis, Buku, Sastra dan Bahasa | 5 | |
| Jikustik - Puisi | kurdadia | Lagu Indonesia | 2 | |
| puisi hampa | bion | Penulis, Buku, Sastra dan Bahasa | 2 | |