![]() Semua isi dan service website-website terbesar di internet, dalam indonesiaindonesia.com |
|
#11
|
||||
|
||||
|
JATUH CINTA
Coba nyanyikan lagu termerdu yang kau bisa.. Bacakanlah syair termashyur yang pernah ada... Atau mungkin jarimu bisa menari-nari memainkan harpa... Untuk bisa menyentuh keindahannya... Keindahan cinta... Seutas senyum dari seorang belia... Matanya berlinang oleh air surga dari jembangan hati yang tumbuh bunga Mayang rambutnya berkelok ikut bicara.. Tak ada yang lebih ingin dia ungkapkan, selain cinta yang ia rasakan Masih terpaku tubuhnya di atas rerumputan Memandang savanna yang seolah tak berbatas Menitipkan kabar pada angin yang menderu Kabar bahwa ia merindu... Bisakah kau bawa aku kesana... Terbang bersama suara hatiku... Terbang bersama mega yang berarak Dan hinggap di atas hati yang kudambakan... Seketika mendung memayungi jiwanya... Dan deru angin semakin kuat menghempas tubuhnya... Tapi ia tetap bertahan.... Untuk seseorang yang didambakan... Mengertilah angin... Pahamilah diriku wahai mendung... Aku tak kan mundur barang sejengkal... Untuk bernyanyi... Memainkan harpa dari dawai hatiku... Hanya untuk cintaku... |
|
#12
|
||||
|
||||
|
ArtI cINTa
mErentas pusar pandang,beserta gu2rnya Hati......... Dalam kehaRuan besaR ialah KEhARUAN DiRiku....... sAmpai terasa betapa arti cinta......... YanG menyelinaP di antarA hati..... Aku yg menemui diri dalam keharuan masa kecil...... dAlaM keharuan masa kecil,dalam kerinduan dewaSa.... KU pulang hampir malam,tapi cintaku mulai berpAncar... ku puLang hampir malam jiwaku tak mau pudar... CinTa seJAti ialah.......... cinta yang panas seperti api.... Yang sekali-kali membakar hati... yang sEkalI-kALi meNYelimuTI HaTi.... puisi ini ku buat untk se2orang yg jauh di sana,,,,,,,, walaupun jauh tp slu dkt di hati..... i miss u.... |
|
#13
|
||||
|
||||
|
YANG DATANG DAN YANG PERGI
Seperti malam dan siang Seperti mentari dan rembulan Bagai hari pengisi waktu Layaknya Bunga bersemi lalu gugur Dia datang...kemudian pergi Kamu dan juga aku..... Kita datang....dan kita pergi... Dalam sebuah perjalanan waktu Dari tiada menjadi ada Dari ada menjadi tiada Senyuman lalu tangisan... Datang dan pergi.... Jiwa-jiwa kita terlahir dan menatap dunia Kita menangis sementara semua orang tersenyum Akan kah apabila kita pergi dengan senyum Sementara orang-orang menangis? Berbahagialah.... Ketika kita di atas punggung waktu Mengarungi semuanya selaksa makna Ada arti yang kita bagi untuk semua...untuk yang kita cinta Yang Datang dan Yang pergi Semua ada saatnya.... Semua atas Kehendak-Nya |
|
#14
|
||||
|
||||
|
Nada-nada Cinta
Musik ini mengalun... Berbisik lembut... Membawa ke dalam sebuah kerinduan Menghadirkan angan-angan indah... Akan sesuatu... Yang kadang sulit untuk diraih... Musik ini... Menghadirkan nada-nada cinta... Suara flute lembut beriring biola... Melengking... Menyayat....Memecah Sunyi Bagai hati yang menjerit meraih cinta Denting gitar.... Lantang diantara himpitan piano yang bersahutan... Menyuarakan keindahan berbalut nestapa Dalam cinta yang tak berbalas... Musik ini akan berakhir.... Seiring mata yang kian mengatup... Meninggalkan senyum di bibir.... Mengguratkan takdir Nada-nada ini.... Adalah nada... Tentang cinta yang tak berbalas.... Ada keindahan dalam liputan kesedihan.... |
|
#15
|
||||
|
||||
|
Gema takbir yg bersenandung
Mengundang tangis sendu dlm kesendirianku Gemuruh beduk yg bersahutan Mengundang tangisdlm kerinduaanku Lagi lagi dan lagi Hari itu tiba Hari yg suci penuh berkah Rahmah dan kemulyaan Sendiri dan masih aku sendiri Jauh dan masih aku jauh dr ada kalian Tgn yg aku ulur tak mampu kalian jabat Peluk mesra drmu yg kusayangi tak mampu ku raih Hanya tngisdan kenangan itu yg temani dirayaku ini Dalam resah pilu KU terdiam terpaku dan men coba mengingat dan mengenang Betapa byk kilaf dan salahku selama ini Ayah ,Bunda dan semua yg kusayangi Dengan niatan hati yg tulus Mohonkan ampun atas sgala Salah dan khilafku selama ini Jika da kata atau tindakanku Yg buati hati kalian teriris Dan dengan mata terpejam Ku bersimpuh dan bersujud Ya Allah Ampunkalah dosa dosa hambamu ini Hambamu ini hanyalah insan biasa Letak dimana dosa dan kilaf tercipta Ampunkanlah hambamu ya Allah Dan senantiasa bimbing lah hambamu ini Untuk kau tuntun ke arah jalan mu Amien... "robbanna atina fiddunya khasana wafil akhirhoti khasana wakhina ngada bannar" |
|
#16
|
||||
|
||||
|
Kerinduan
Aku masih termangu saat orang-orang mengucap sebuah kata Himpitan hari dan detik yang memburu Membuat semuanya seakan terabaikan Bisikan-bisikan sampai teriakan yang menggema Tak jua membuatku tersadar Mereka berkata "Marhabban Yaa...Ramadhan..." Oh, rupanya ia telah datang... Aku kembali berjumpa... Dan serta merta hatiku gundah... Gerangan apa yang bisa kuperbuat? Akankah kulewati begitu saja Hanya bertemankan lapar dan dahaga? Ia begitu menggoda... Dengan malam-malam syahdu yang dihadirkan Dengan magrib-nya yang begitu mempesona Dan ia giring jiwa-jiwa ke rumah-rumah Sang Khalik Ia begitu anggun... Membuat hati nestapa terhibur Membuat jiwa kering menjadi basah Oleh air mata pengampunan... Kecantikannya, keanggunannya dan keelokan yang menggoda Tak jua membuatku mau... Sekedar menyapa... Tapi ia masih tersenyum... Ia bisikan waktunya hampir tiba... Untuk kembali meninggalkanku... Sampai dalam kesempitan waktu... Ketika nyanyiannya mulai sayup terdengar... Suaranya yang syahdu lambat laun menghilang... Aku tergopoh-gopoh... Aku mengejarnya... Ia masih saja tersenyum tapi sosoknya mulai menjauh... Sampai kudengar sayup-sayup: "Allahuakbar walila hilham...." Dan air bening dari pintu jiwaku berderai.... Ia telah pergi.... Akankah aku diberi kesempatan... Untuk kembali menjumpainya... Dan bernyanyi dalam malam yang syahdu bersamanya.... |
|
#17
|
||||
|
||||
|
Ku tatap ....
langit masih juga mendung Namun hujan tak kunjung tiba Ku lihat... Hari belum juga malam Namun sang mentari masih enggan Berbagi sinarnya Kurasakan ... Angin yg berhembus begitu kencangnya Serasa beku sekujur tubuh ini Namun tak jua sejuk kan hati Yang tandus dan kehausan Kudengar ... Kau kan meminangnya 4 th lagi Namun mengapa kau tabur cinta Diladang hati yg lama Terdiam dalam kedamaiannya Salah kah aku? Atau salahkah dirimu? Atau mungkinkah aku salahkan Sang keadaan dan waktu? Mengapa semua ini terjadi Tahukah engkau betapa hancur hati ini Belum juga luka yg dulu itu Terobati? Balutan dan jahitan itu Masih tersisa Bukankah kau tau itu Tak perlu kau tangisi semua itu Tak sepaturtnya kau menangis Wahai shobatku... Takpernah terlintas dlm benakku Jika kau setega itu Shobat? inikah persahaban itu Ada baiknya jika kita akhiri Akhiri saja sandiwara cintamu ini Tak perlu kau peduliin akan Hati yg merintih pilu ini Biarkan semua itu jadi Kengan yg terindah Diantara kau dan aku |
|
#18
|
||||
|
||||
|
Tarian Abadi
Kau himpun selaksa duka Dengan bantuan angin yang diiringi awan Ketika mega tak lagi membiru Untuk sekedar mengusir segumpal gundah Dan menghardik seonggok nestapa Kau coba menari dengan selendang air mata Kemudian beningnya semburat diterpa mentari petang Kaucoba bakar obor untuk menyalakan malam-malam ditemani rembulan memucat... Lolongan hati yang menyendiri... Tapi tahukah kamu? Esok itu masih ada... Seperti janji-janji penghuni langit... Ia tak mungkin berdusta Akan datang kepadamu Sebuah malam yang benderang Dimana semua nestapa akan sirna Dan mentari pagi kan menyambut Dengan semburat sinarnya yang cerah... |
|
#19
|
||||
|
||||
|
Kekasihku
Dalam pekat malam yang dingin Ketika dewi bulan tengah di peraduannya Aku di sana bersamamu Kuhentikan malam-malam sepi di hatimu Menjadi nada-nada cinta yang bingar Bagai pesta para raja... Kamu tersenyum Seindah lembayung senja Sebening embun pagi Aku menyayangimu... Kupeluk hatimu Kuberi kehangatan bagai selimut mentari pagi Kubisikan suara Tentang esok yang penuh harapan Aku tak bisa berjanji Aku tak bisa berkata-kata Aku hanya bisa menatap Bola matamu yang indah Dan kamu bisa merasakan Segenap jiwaku mencintaimu Karena Kamu dan Aku tahu Kamu adalah kekasihku.... |
|
#20
|
||||
|
||||
|
Puisi Cinta
Aku meradang tatkala ia menyentuhku Kuusir dia dengan segenap kekuatan Kubawa badai untuk menghempaskannya Kubelokkan aliran sungai dari muaranya Kusengat ia agar menggosong dengan terik surya Aku melolong bak serigala malam yang kesepian Dia begitu mendera, jiwaku sakit Dadaku berdegup... Lebih keras dari debur ombak di lautan sana Kuhunus pisau dan kucabik Kuinjak dan kuhapus dengan telapak kakiku yang perih Jejak-jejak itu masih tampak dengan jelas Bahkan dengan nanar pandanganku Ia masih tampak nyata...senyata kehidupan Tapi pengharapanku maya.... Semaya kegaiban Hai Dewi Cinta.... Turunlah engkau dan ambillah ia dariku.... Ia datang bersama dengan sirnanya pengharapan Hatiku mulai membusuk.... Pengharapan bagai onggok kayu kering... Bergelimpangan dan bergesekan... Lalu terbakar dan menjadi abu.... Sirna dan tak berbekas.... Aku lelah.... Asa tak lagi berkaki... Lumpuh ditelan waktu... Kerinduan tengah membeku... Yang kuingin hanyalah Kamu..... Bukan yang lain.... |
![]() |
| Thread Tools | |
| Display Modes | |
|
|
Similar Threads
|
||||
| Thread | OPening | Forum | Replies | |
| Puisi-puisi Cinta Chairil yang Menggetarkan | Kalina Maryadi | Puisi, Sajak, Syair | 16 | |
| Puisi [English] | gmon | Puisi, Sajak, Syair | 5 | |
| Jikustik - Puisi | kurdadia | Lagu Indonesia | 2 | |
| puisi hampa | bion | Puisi, Sajak, Syair | 2 | |