![]() Semua isi dan service website-website terbesar di internet, dalam indonesiaindonesia.com |
|
#11
|
|||
|
|||
|
Re: Hakikat Tasawuf Dan Sufi
Bantahan yang baik sekali....
Tapi soal akidah sufi wihdatul wujud dan soal nur muhammad gimana bantahannya?? |
|
| |
Thread Menarik Pilihan |
|
|
#12
|
||||
|
||||
|
Yuk...
Manunggaling kawula gusti itu nggak sesat, namun untuk memahaminya secara bear, yang belajar harus sudah mantap islamnya. dalam tasawuf, penyatuan mistis antara hamba dan tuhan itu dikenal dengan istilah fana'.
penyatuan ini bukan berarti membuat hamba menjadi tuhan atau sederajat, namun hamba melebur kedalam tuhan. ini memang hanya dapat dipahami lewat kajian hakikat, dan kayaknya form ini gak cocok. karena ditkutkan ada yang nanti salah paham karena ilmunya belum memadai untuk menalar stetmen2 hakikat. mengenai sufi dan tasawuf, itu memang sangat pribadi. kelahiran tasawuf smpai skarang masih ada kontraversi, ada yang bilang tasawuf asalnya dari kata teo-sofia (ilmu ketuhanan), ada yang bilang dari shuffah (kesederhanaan) dan ada yang bilng perpaduan antara teologi dan filsafat. udah, jangan liat defenisinya, lihat saja perilaku mereka yang senantiasa menjaga hati mereka dari cinta dunia. mereka nggak angkuh dengan ibadah mereka, dan taukah kamu, jika para sufi itu sangat bijaksana? |
|
#13
|
||||
|
||||
|
Re: Hakikat Tasawuf Dan Sufi
sepakat dengan umangvirmaker
Salam kenal ya den.... |
|
#14
|
||||
|
||||
|
Re: Hakikat Tasawuf Dan Sufi
Alhamdullilah..!!,
Mari kita landasi diskusi kita ini dengan kata-kata bijak: "Boleh berbeda pendapat, asal jangan kehilangan sahabat" Kalau boleh saya ikutan tanya nih..!!, siapa sebenarnya yang memulai untuk memilah-milah dan membeda-bedakan Islam ? sehingga pada akhirnya begitu banyak kelompok 'keyakinan' yang kadang secara ekstrim saling menyalahkan satu dan lainnya, sementara semua mengklaim sumber yang sama..!! Memang sudah menjadi ciri kelemahan 'manusia' yang masih menggunakan 'mata' hanya untuk melihat keluar tanpa pernah berusaha untuk melihat kedalam. Bila kita sangat hafal tanggal lahir kita, kapan lulus sd, smp, sma, dst, kapan kita nikah..dst..!!, tapi bolehkah saya kembali bertanya.. kapan 'tepat' nya anda masuk Islam..?? . Kalau anda bisa merasakan 'beda' nya antara waktu masih 'smp' dan sudah 'sma', bila anda bisa menentukan 'beda' nya sebelum dan sesudah 'menikah' maka ijinkan kembali saya bertanya..sudahkah anda tahu 'beda' nya sebelum dan sesudah 'masuk' Islam...?? Kalau kita orang Indonesia, secara umum tentu kita tahu apa itu 'Monas' tapi ijinkan kembali saya bertanya.., yang manakah sudut pandang terbaik untuk dapat 'melihat secara lengkap' Monas...??, karena apabila anda sedang 'didalam' Monas, tentu anda tidak lagi dapat 'melihat' sosok Monas, sedangkan bila anda 'diluar' Monas, tentu anda tidak akan tahu 'apa yang sedang terjadi' didalam Monas...!!. Kemudian silahkan mengganti kata 'Monas' dengan 'Islam',....apakah anda bisa memperoleh sudut pandang terbaik..??. Sebagai Makhluk Allah SWT, yang diperintahkan untuk memulai segala hal dengan Iman sebagaimana dipanggil diawal-awal Surat dengan kalimat 'Wahai orang-orang yang beriman" dan didalam keimanan tersebut selalu diperintahkan untuk 'berfikir' sebagaimana sering dicantumkan diakhir-akhir surat dengan kalimat "Bagi orang-orang yang mau berfikir", sehingga diharapkan dengan kedua 'sikap' tersebut dapat meraih 'ketenangan' dalam beribadah sehingga akhirnya dapat diklasifikasikan termasuk dalam kalimat panggilan "Wahai jiwa-jiwa yang tenang". Sampai disini ijinkan kembali saya bertanya..., sejujurnya sudahkah 'anda' meraih 'ketenangan jiwa' tersebut didalam 'aktifitas keislaman' anda ..? atau justru anda masih 'tidak tenang' dengan yang anda coba 'ucapkan' dan 'kerjakan' setiap saat sehingga anda akan selalu berusaha untuk memilah-milah dengan pertanyaan apakah saya sedang 'didalam' ibadah ataukah sedang 'diluar' ibadah...??. Mari kita bicara mengenai 'tingkat pemahaman' yang sering dipertentangkan selama sekian abad dan menimbulkan pertumpahan darah dan saling menghalalkan 'darah' masing-masing kelompok. Bayangkan semisal didalam suatu ruang kelas, dikumpulkan para 'juara kelas', ranking 1 dari anak TK, anak SD, anak SMP, anak SMU, Mahasiswa S1, dan Program S2. Masing-masing juara 1, dan kemudian ditanyakan apa 'pemahamannya' mengenai hitungan 1 + 1 = 2. Tentunya mereka semua secara 'rumusan' akan setuju dan meyakini hitungan tersebut sesuai 'keterangan' yang mereka peroleh dari masing-masing 'guru/dosen' nya. Tetapi ketika mulai diminta untuk 'memahami' dan 'menjabarkan' tujuan dari 'rumusan' tersebut maka disinilah akan timbul berbagai 'tingkat' pemahaman yang satu sama lain tidak mungkin bisa disepadankan karena memang berbeda tingkatan dan semua 'meyakini' kebenaran masing-masing dan memang pada hakikatnya mereka semua 'benar'. Lalu kembali ijinkan saya bertanya kepada anda..?, sesuai rumusan diatas benarkah bila " 1 Islam + 1 Islam = 2 Islam ".. ?. Saat ini pada kenyataannya kita melihat tidak hanya "2 Islam" tetapi "banyak Islam", dan apakah ini merupakan dampak dari 'rumusan' matematis tersebut, karena kita sudah terbiasa dibentuk dalam hidup 'matematis', seperti 'belajar yang rajin = pandai' dan 'kalau pandai = sukses' , bahkan 'pahala' dan 'dosa' kita beri 'satuan' matematis tertentu ada yang 'besar' ada yang 'kecil', ada perkalian, kelipatan, bahkan 'do'a' dan 'dzikir' perlu kita hitung dengan 'counter'..?. Kalau sudah begini..kembali ijinkan saya bertanya.., sudah tepatkah pilihan status kita ? apakah kita sedang menjadi 'pekerja' yang selalu mengharap 'upah' dan takut 'dipecat' , ataukah kita sedang 'berdagang' sehingga mengharapkan 'untung' dan takut 'rugi', atau kita betul sudah memahami apa yang dimaksud 'hakikat' dari 'abd' / 'hamba' Allah SWT. Sampai disini, dengan sedemikian banyaknya "Islam", maka berikutnya timbul pertanyaan 'dimanakah' posisi anda ?. Anda darimana ? sedang dimana ? dan akan kemana ?. Hal ini tidak akan ada orang lain sepandai apapun yang mampu menjawabnya karena itu adalah 'posisi' anda, sehingga andalah yang paling ahli untuk menjawabnya..!!. Apabila ada 'orang' ataupun 'kaum' yang mengklaim mampu melihat 'posisi' anda, maka 'orang/kaum' tersebut sedang kehilangan 'posisi' nya sendiri, karena berusaha melihat 'posisi' anda. Ingatlah 'hukum mata' dimana 'penglihatan' diciptakan untuk 'hanya' dapat melihatsecara 'fokus' ke satu titik sehingga bila digunakan untuk 'melihat' dan bahkan 'menilai' 'orang' lain, maka pada saat yang sama kita sedang kehilangan 'penglihatan' diri kita sendiri (he..he.. mudah-mudahan tidak terlalu rumit ya..bro). Sebagai 'panduan' ringan untuk dapat memahami 'hakikat' dari dimana 'posisi' kita didalam 'keislaman' kita. Mari kita mencoba 'idiom' hikmah Buah Mangga (lho..apa hubungannya sama buah mangga..!!?, yaa.. iyalah buah mangga, masak buah kameha-meha dari hawaii yang kita nggak tau bentuknya..) Pertama, bagaimanakah cara 'melihat' dan 'membedakan' buah mangga yang 'mentah' dan 'matang, tentunya dengan melihat perbedaan 'warna' kulitnya ditambah dengan memperhatikan 'kemulusan' kulitnya, dilanjutkan dengan 'mencium' baunya, dan 'meraba' keempukan kulitnya. Sedangkan untuk mengetahui 'asam' atau 'manis' rasanya tidak mungkin bisa kita 'yakini' hanya dengan 'melihat' kulitnya, sehingga kita perlu bertanya kepada 'penjual' nya, dan perlu diingat bahwa semua 'penjual/pedagang' buah mangga akan mengatakan bahwa mangganya paling 'manis'. Bila keislaman seseorang ada pada tahapan 'kulit' buah mangga, maka yang diperlukan adalah 'kulit islam' yang 'mulus' , 'harum' baunya, dan dapat 'diraba' sehingga cenderung untuk selalu berusaha untuk 'mengkilapkan' kulitnya dengan berbagai bentuk 'ibadah' yang dapat 'dilihat mulus' , 'wanginya tercium', dan 'dapat diraba' jumlahnya dan berharap mendapatkan pujian 'manis' dan berupaya untuk mengiklankan 'kemanisan' ibadahnya seperti pedagang buah mangga tadi walaupun 'hakikat' nya tidak pernah benar-benar merasa 'yakin' terhadap 'kata-kata' nya sendiri. Sebagai 'kulit Islam', inilah lapisan terluar yang paling banyak jumlahnya, dan sesuai 'fungsi' nya justru ini adalah 'pelindung/pagar' dari lapisan berikutnya. Kedua, ijinkan saya kembali bertanya 'sudahkah anda merasakan nikmatnya Islam ?'. Nah.. seperti juga 'umum' nya orang yang 'membeli/memetik' buah mangga yang 'matang', rata-rata tujuannya adalah untuk menikmati 'daging' buah mangga tersebut. Tentu setelah melalui tahap 'pertama' diatas, pada akhirnya orang akan 'mengupas' dan 'membuang' kulit yang pada awalnya dianggap paling utama dalam 'menilai' buah mangga. Karena tanpa berupaya untuk 'mengupas/membuang' kulit tersebut, anda tidak akan bisa 'menikmati' daging buah mangga itu. Begitu juga dengan 'keislaman' kita, bila kita 'mempertahankan' kulit, maka kita tidak akan pernah merasakan 'daging' Islam. Seperti juga buah mangga, saat kita mulai 'mengunyah' daging buah Islam, maka disitulah anda baru bisa merasakan yang dimaksud dengan 'nikmat' manisnya Islam. Kembali kita bertanya.., apakah semua orang yang sedang 'mengunyah' daging buah Islam akan merasakan nikmat yang sama..? . Untuk 'memahami' ini, mari kita petik dua buah mangga dari pohon yang 'sama', yang menurut 'penglihatan' kita sudah 'sama' matangnya. Anda dan saya masing-masing 'mengupas kulit' dan mulai 'menikmati' daging buah mangga masing-masing. Kemudian saya bertanya kepada anda, daging buah mangga anda 'manis' nggak ?, dan anda jawab 'manis', lalu anda balik bertanya kalau daging buah mangga saya bagaimana ?, maka saya jawab 'manis juga'..!!. Baiklah..kedua-duanya ternyata 'manis'. Sampai disini kembali ijinkan saya bertanya.., adakah cara untuk dapat 'memperbandingkan' rasa 'manis' diantara kedua buah mangga tadi tanpa 'bertukar' buah masing..masing..!!. Bila jawabannya adalah 'tidak ada', maka sungguh merupakan perbuatan 'sia-sia' untuk membanggakan 'kadar rasa manis' masing-masing sambil 'berusaha' menilai 'kadar manis' buah yang lain hanya dengan 'melihat' tanpa mencoba 'bertukar' daging buah 'mangga' tersebut. Demikianlah yang dimaksud dengan 'nikmat' Islam hanya dapat dirasakan secara masing-masing 'individu' dan tidak dapat dipertukarkan apalagi saling memberi penilaian 'ukuran' nikmatnya, seperti juga saat anda menjadi 'pengemudi' mobil anda tidak bisa merasakan 'nikmat' nya menjadi penumpang, demikian sebaliknya sebagai penumpang tidak akan bisa merasakan 'nikmat' nya mengemudi mobil. Kemudian selanjutnya timbul lagi pertanyaan., apakah 'nikmat' ini yang menjadi 'maksud' dan 'tujuan' kita pada saat 'membeli/memetik' buah mangga...??. Untuk sebagian orang, tahapan ini sudah cukup, karena pada umumnya yang bisa dirasakan adalah 'rasa manis' dari daging buah mangga itu. Tapi sejauh mana atau berapa lama 'rasa manis' fisik itu bisa kita rasakan ?, tentunya tidak bisa terlalu lama karena 'rasa' itu hanya sebatas sampai 'tenggorokan' kita saja. Kalau begitu, tentu bisa kita simpulkan bahwa 'nikmat manis' itu bukan 'tujuan' utama, ternyata 'nikmat' itu hanya 'bonus' dan 'sarana' agar kita mau 'memakan/mengunyah' nya, sedangkan 'tujuan' utama adalah 'apa manfaat' yang bisa kita peroleh dari buah mangga itu, yang dalam hal ini adalah 'vitamin' dan berbagai 'zat' yang berkhasiat untuk 'kesehatan' kita, dimana kita tidak tahu 'yang mana' dan seperti 'apa' rasanya, tetapi kita jelas dapat 'merasakan' manfa'at dan 'arti' rasa 'sehat' pada tubuh kita setelah 'mengkonsumsi' nya. Demikianlah 'hakikat' dari 'manfa'at' Islam yang sebenarnya adalah seperti 'vitamin' dan 'zat' berkhasiat yang tujuannya adalah menyehatkan atau memperbaiki 'kesehatan' akhlak kita. Inilah yang dimaksud dengan tahapan ketiga dari keislaman seseorang, dimana pada tahapan ini 'seseorang' tersebut sudah dapat benar-benar 'merasakan' manfaat islam yang bertujuan memperbaiki dan meningkatkan 'kesehatan' akhlaknya. Sampai disini 'pembahasan' hikmah buah mangga ini masih dalam lingkup manfa'at individual. Dalam tahapan ini 'seseorang' tersebut tentunya tidak lagi 'sibuk' mempersoalkan dan memperbandingkan 'mulusnya kulit' atau 'manisnya' rasa daging buah mangga, tapi lebih mementingkan 'manfaat' apa yang bisa diperoleh dari 'mengkonsumsi' buah mangga itu. Di tahap ini, kemudian muncul pertanyaan baru.., Jadi apakah ini yang merupakan 'maksud' dan 'tujuan' diturunkannya 'Islam'..?. Agar dapat menjawab pertanyaan diatas mari kita lanjutkan ketahapan yang keempat. Dari seluruh pembahasan mengenai hikmah buah mangga diatas..sebenarnya manakah bagian paling penting dari buah mangga..??, apakah 'kemulusan kulitnya' , 'manisnya rasa daging buahnya'. 'atau manfaat berbagai vitamin yang terkandung didalamnya'..?, jawaban yang mudah adalah ketiga-tiganya sama-sama penting karena merupakan rangkaian dan kesatuan yang mengantarkan pada tahapan berikutnya, karena bila tidak ada 'kulit' , maka 'daging' akan rusak, dan bila 'daging' rusak, maka 'vitamin' akan hilang. Menjawab pertanyaan, apa bagian paling penting dan merupakan 'tujuan' dari buah mangga ?, ternyata bagian ini pada umumnya adalah yang paling sering kita 'buang' yaitu 'biji' buah mangga. Biji atau bisa disebut 'inti' buah mangga dapat kita 'idiom' kan dalam keislaman kita, inilah tahapan akhir dan yang merupakan 'tujuan' sebenarnya dari proses 'keislaman' seseorang. Mari kita kembali ke 'pohon' mangga. apa maksud dan tujuan sebenarnya si 'pohon mangga' dengan menghasilkan 'buah mangga' yang 'mulus kulit' nya 'manis' rasa daging buahnya, dan 'bermanfaat' vitamin nya...?. Dari perspektif 'pohon mangga' tersebut, ternyata ketiga hal itu hanyalah sebagai sarana 'penarik/pemikat dan bonus' agar tujuan utama si 'pohon mangga' itu tercapai, yaitu menghantarkan 'biji/inti' yang merupakan 'penerus' dari si 'pohon mangga' itu agar menyebar seluas mungkin dan kemudian 'berproses tumbuh berkembang' secara 'persis sama' dengan 'induk' nya diseluruh penjuru bumi ini dan 'kembali' dapat memberikan 'manfaat' yang semakin lama semakin besar. Nah..mudah-mudahan saya tidak salah menyimpulkan bahwa 'ilustrasi' pohon mangga dan buah mangga diatas dapat lebih 'memahamkan' kita bahwa fungsi utama 'keislaman' kita ternyata harus senantiasa meningkat dan berdaur ulang seperti siklus buah mangga itu. Kita perlu melalui tahapan 'mulusnya kulit Islam'. kemudian meningkat ketahapan 'nikmat manisnya daging Islam', dilanjutkan dengan 'Bermanfaatnya vitamin dan zat Islam'. dan utamanya adalah 'sempurnanya biji/inti Islam' agar dapat 'ditanamkan' kembali dan 'tumbuh berkembang dalam qalbu generasi penerus Islam' secara 'persis sama' dengan 'induk' nya, 'mengakar kokoh dan kuat' serta 'berdaun rimbun menjulang' agar dapat memberikan 'perlindungan dan kesejukan' bagi umat manusia dan pada gilirannya kelak akan kembali 'berbuah' lebih baik dan lebih 'bermanfaat' bagi seluruh alam. Semoga cerita kecil diatas dapat memberi manfaat bagi rekan-rekan semua, dan sekali lagi 'boleh berbeda pendapat, asal tidak kehilangan sahabat'. Wassalam. |
|
#15
|
||||
|
||||
|
Re: Hakikat Tasawuf Dan Sufi
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Aduh...bahasa sastra nya bikin laper neh...mana blom musim mangga lageee |
|
#16
|
|||
|
|||
|
Re: Hakikat Tasawuf Dan Sufi
Quote:
mari kita bahas satu per satu yang kata penulis adalah "bukti", maka saya akan mem-bukti-kan juga sebaliknya, dan mengajak merenungkan kembali apa arti bukti dan apakah ini suatu bukti ?! Quote:
maka dengan ayat yang dikutip diatas tiada bersalah-salahan, yg jadi problem adalah karena Al-Hallaj memberi contoh dengan "dalam bentuk orang makan minum" sebenarnya contoh ini dapat diganti2 dengan "menampakkan pada gunung" seperti pada lanjutan kisah Musa as cuma salah paham si penulis saja mengartikan kata "menampakkan" itu, tidak bisa jadi bukti sesat kok..! lanjut... |
|
#17
|
|||
|
|||
|
Re: Hakikat Tasawuf Dan Sufi
Quote:
Maksudnya gene...waktu itu ada seorang salik yg tidak mau menyentuh istrinya, karena malu dilihat Allah, sebagai seorang syaikh yg tau kewajiban memberi nafkah lahir-batin kepada istri, maka ada taktik agar orang tsb jadi senang dekat kepada Istrinya seperti ia dekat kepada Allah dan ini per kasus gak bisa dijadikan hujjah, setiap niat baik tidak selalu dengan cara yg baik lanjut... |
|
#18
|
|||
|
|||
|
Re: Hakikat Tasawuf Dan Sufi
Quote:
klo masalah 'saling menyembah' itu maksudnya bukan ada dua, seperti "ada yg disembah" dan "ada yg menyembah", bagimana bisa saling sembah klo ya ada cuma SATU ?! hanya orang bodoh yg bilang kalo cuma satu bisa saling sembah !! lanjut.. |
|
#19
|
|||
|
|||
|
Re: Hakikat Tasawuf Dan Sufi
Quote:
Yang jelas Dia uda bilang/ngaku Islam, dan mungkin klo hidup dizaman Isa as dia jadi Nasrani dan klo hidup di jaman Musa as dia jadi Yahudi, yg semua adalah dolonya agama TAUHID, begitu juga kita kan?! kemudian tempat ibadah, ya kan bisa dimana aja, yg penting connect nya benar kepada ALLAh swt saja lanjut... |
|
#20
|
|||
|
|||
|
Re: Hakikat Tasawuf Dan Sufi
Quote:
lanjut... |
![]() |
| Thread Tools | |
| Display Modes | |
|
|
Similar Threads
|
||||
| Thread | OPening | Forum | Replies | |
| Tasawuf Dan Aqidah Manunggaling Kawula Gusti | andy_baex | Islam | 3 | |
| TASAWUF DAN PENGKULTUSAN RASULULLAH Shalallahu’alaihi Wassallam | andy_baex | Islam | 23 | |
| Hakikat Dakwah Salafiyah | andy_baex | Islam | 0 | |
| Hakikat Tasawuf (bag1) | andy_baex | Islam | 0 | |