resi_dj
New member
Setelah menikah, sudah seharusnya relasi/ hubungan dalam pergaulan mengalami perubahan. Pasangan yang tidak bersedia berubah akan menabur benih ketidaksetiaan. Kita harus mengingat bahwa bukankah pada awalnya kita pun tertarik dan jatuh cinta dengan pasangan oleh karena kita bergaul akrab dengannya. Ini adalah hukum alam: dengan siapa kita bergaul akrab, dengannya terbuka lebar kemungkinan untuk tertarik dan jatuh cinta. Itu sebabnya kita mesti mengawasi dan membatasi pergaulan setelah menikah.
Sebagian dari kita pasti sudah ada yang merasakan suatu perubahan pergaulan/ pertemanan setelah adanya suatu pernikahan. Entah itu di sisi bagi yang menikah, maupun yang ditinggalkan oleh seorang teman dekat yang sudah menikah. Adanya suatu kekecewaan / kejanggalan merasakan suatu perbedaan ini wajar saja. Yaps karena Orang yang sudah bersuami istri itu kan sudah punya dunia baru, dunia milik mereka berdua. Mereka sudah punya pasangan hidup untuk berbagi suka dan duka. Dan dengan posisi ini, seorang istri tak bisa lagi curhat-curhatan seenaknya, karena menyangkut "dapur" rumah tangganya. Begitu juga sang suami, tidak boleh dengan alasan apapun intim dengan teman wanitanya.
hmmm...pernikahan bagai sebuah tembok yang tinggi dan tebal, saat seseorang melewati tembok itu maka dia tidak akan bisa kembali. Bagi yang di luar tembok, mereka selalu ingin berada didalam situ....sedangkan yang udah didalam tembok....(mereka ngapain ya? >:l>:> ehehehe)
)
So, memang harus dibatasi...juga harus membatasi diri. Nah, di bawah ini ada sedikit nasehat dari telaga.org, untuk membatasi pergaulan, berikut nasihatnya:
1. Terimalah fakta bahwa di luar pasangan, akan ada orang yang memiliki karakteristik yang kita sukai dan kagumi.
Adakalanya karakteristik itu juga dimiliki pasangan sendiri namun kadang, tidak. Sudah tentu kita akan senang melihat-apalagi bila dapat menikmati-karakteristik yang disukai itu. Kita tidak perlu menjauh atau ketakutan ketika merasakan semua ini namun sebaliknya, kita mesti menjaga diri agar tidak mendekati atau menambah kedekatan dengan orang ini. Apa yang sudah ada, pertahankan dan jangan ditambahkan.
2. Walau sukar, jagalah agar kita tidak menunjukkan-apalagi mengungkapkan kesukaan atau kekaguman kita kepadanya.
Kekaguman yang diungkapkan acap kali diinterpretasi sebagai undangan untuk masuk lebih dalam, atau setidaknya kekaguman yang diungkapkan menuntut respons yang serupa. Bila kita mengatakan kepada seseorang bahwa kita menyukai atau mengaguminya, maka orang itu akan merasa berkewajiban untuk mengatakan hal yang sama tentang diri kita. Dari titik inilah relasi/ hubungan biasanya makin mendalam. Jadi, jagalah diri dan lidah untuk tidak mengungkapkan hal-hal yang dapat membuka peluang masuknya boomerang rumah tangga.
3. Jika kitalah yang menerima ungkapan atau pujian kekaguman, dengarlah dan ucapkanlah terima kasih namun janganlah merasa wajib untuk mengungkap hal yang serupa kepadanya.
Dan janganlah memanfaatkan ungkapan itu sebagai pintu masuk ke rumah hatinya. Jangan ada keinginan sedikit pun untuk menyerobot apa yang sudah menjadi milik orang lain. Jadi, suatu hubungan yang dimulai dengan tidak baik ini, tidak akan membuahkan kebaikan. Begitu banyak perselingkuhan terjadi atas dasar sungkan-sungkan menolak, sungkan melukai atau mengecewakan, sungkan terlihat tidak sopan, sungkan dilihat kurang berterima kasih, dan sebagainya. Jadi, awasilah diri untuk tidak terjebak ke dalam perangkap sungkan yang salah kaprah.
4. Ingatlah setiap pertemanan bukanlah pertemanan yang lengkap dan sempurna.
Tidak ada orang yang dapat mengerti diri kita sepenuhnya dan tidak ada orang yang cocok dengan kita seluruhnya. Dengan berjalannya waktu, semua akan tersingkap dan kita pun akan menemui hal-hal yang mengganggu dalam suatu hubungan. Itu sebabnya kunci kekuatan relasi bukan terletak pada kesempurnaan pasangan melainkan pada kesediaan untuk mencoba dan mencoba lagi. Apa pun yang menjadi kesulitan kita, hadapilah dan cobalah bereskan, jangan cepat mengangkat tangan dan berkata, "Saya sudah pernah mencobanya namun tidak berhasil." Kadang kita harus mencoba bertahun-tahun sebelum melihat hasilnya. Kita mesti mengingat bahwa setiap relasi/ hubungan pada awalnya merupakan sebuah fatamorgana; pada akhirnya kitalah yang mesti menggali sumber air itu, sebelum kita bisa meminum darinya.
yaps yaps.......@-->@--> saya tunggu nasihat dan ulasan lainnya.

Sebagian dari kita pasti sudah ada yang merasakan suatu perubahan pergaulan/ pertemanan setelah adanya suatu pernikahan. Entah itu di sisi bagi yang menikah, maupun yang ditinggalkan oleh seorang teman dekat yang sudah menikah. Adanya suatu kekecewaan / kejanggalan merasakan suatu perbedaan ini wajar saja. Yaps karena Orang yang sudah bersuami istri itu kan sudah punya dunia baru, dunia milik mereka berdua. Mereka sudah punya pasangan hidup untuk berbagi suka dan duka. Dan dengan posisi ini, seorang istri tak bisa lagi curhat-curhatan seenaknya, karena menyangkut "dapur" rumah tangganya. Begitu juga sang suami, tidak boleh dengan alasan apapun intim dengan teman wanitanya.
hmmm...pernikahan bagai sebuah tembok yang tinggi dan tebal, saat seseorang melewati tembok itu maka dia tidak akan bisa kembali. Bagi yang di luar tembok, mereka selalu ingin berada didalam situ....sedangkan yang udah didalam tembok....(mereka ngapain ya? >:l>:> ehehehe)
So, memang harus dibatasi...juga harus membatasi diri. Nah, di bawah ini ada sedikit nasehat dari telaga.org, untuk membatasi pergaulan, berikut nasihatnya:
1. Terimalah fakta bahwa di luar pasangan, akan ada orang yang memiliki karakteristik yang kita sukai dan kagumi.
Adakalanya karakteristik itu juga dimiliki pasangan sendiri namun kadang, tidak. Sudah tentu kita akan senang melihat-apalagi bila dapat menikmati-karakteristik yang disukai itu. Kita tidak perlu menjauh atau ketakutan ketika merasakan semua ini namun sebaliknya, kita mesti menjaga diri agar tidak mendekati atau menambah kedekatan dengan orang ini. Apa yang sudah ada, pertahankan dan jangan ditambahkan.
2. Walau sukar, jagalah agar kita tidak menunjukkan-apalagi mengungkapkan kesukaan atau kekaguman kita kepadanya.
Kekaguman yang diungkapkan acap kali diinterpretasi sebagai undangan untuk masuk lebih dalam, atau setidaknya kekaguman yang diungkapkan menuntut respons yang serupa. Bila kita mengatakan kepada seseorang bahwa kita menyukai atau mengaguminya, maka orang itu akan merasa berkewajiban untuk mengatakan hal yang sama tentang diri kita. Dari titik inilah relasi/ hubungan biasanya makin mendalam. Jadi, jagalah diri dan lidah untuk tidak mengungkapkan hal-hal yang dapat membuka peluang masuknya boomerang rumah tangga.
3. Jika kitalah yang menerima ungkapan atau pujian kekaguman, dengarlah dan ucapkanlah terima kasih namun janganlah merasa wajib untuk mengungkap hal yang serupa kepadanya.
Dan janganlah memanfaatkan ungkapan itu sebagai pintu masuk ke rumah hatinya. Jangan ada keinginan sedikit pun untuk menyerobot apa yang sudah menjadi milik orang lain. Jadi, suatu hubungan yang dimulai dengan tidak baik ini, tidak akan membuahkan kebaikan. Begitu banyak perselingkuhan terjadi atas dasar sungkan-sungkan menolak, sungkan melukai atau mengecewakan, sungkan terlihat tidak sopan, sungkan dilihat kurang berterima kasih, dan sebagainya. Jadi, awasilah diri untuk tidak terjebak ke dalam perangkap sungkan yang salah kaprah.
4. Ingatlah setiap pertemanan bukanlah pertemanan yang lengkap dan sempurna.
Tidak ada orang yang dapat mengerti diri kita sepenuhnya dan tidak ada orang yang cocok dengan kita seluruhnya. Dengan berjalannya waktu, semua akan tersingkap dan kita pun akan menemui hal-hal yang mengganggu dalam suatu hubungan. Itu sebabnya kunci kekuatan relasi bukan terletak pada kesempurnaan pasangan melainkan pada kesediaan untuk mencoba dan mencoba lagi. Apa pun yang menjadi kesulitan kita, hadapilah dan cobalah bereskan, jangan cepat mengangkat tangan dan berkata, "Saya sudah pernah mencobanya namun tidak berhasil." Kadang kita harus mencoba bertahun-tahun sebelum melihat hasilnya. Kita mesti mengingat bahwa setiap relasi/ hubungan pada awalnya merupakan sebuah fatamorgana; pada akhirnya kitalah yang mesti menggali sumber air itu, sebelum kita bisa meminum darinya.
yaps yaps.......@-->@--> saya tunggu nasihat dan ulasan lainnya.