Asal Usul Palu dan Arit dalam Paham Komunisme

spirit

Mod
441657_620.jpg

Sorak-sorai dan pengibaran bendera bergambar palu arit menjadi pemandangan sehari-hari di berbagai kota di pulau Jawa. wikipedia. org​

TEMPO.CO, Jakarta - Komunisme identik dengan simbol palu dan arit. Simbol ini kerap digunakan sebagai lambang di bendera negara maupun partai komunis di dunia.

Simbol palu mewakili para buruh atau kelas menengah. Sementara simbol arit mewakili kaum petani.

Kedua benda ini digabungkan pertama kali saat revolusi Bolshevik (Rusia) sekitar 1917. Revolusi yang didukung kaum buruh dan petani itu berhasil menggulingkan kekaisaran yang sudah bercokol ratusan tahun di Rusia.

Palu dan arit berarti persatuan kaum buruh dan petani yang dipimpin oleh Lenin. Kemudian hari simbol itu menjadi lambang solidaritas para pekerja kasar dan kaum bawah. Karena kepopulerannya kemudian masyarakat mengidentikkan palu dan arit sebagai tanda perlawanan atau pemberontakan.

Uni Soviet pun kemudian menjadikan palu dan arit sebagai lambang benderanya. Keberhasilan Lenin menumbangkan kekuasaan aristokrat langsung mengilhami banyak negara-negara di dunia untuk bangkit.

Pada 1 Oktober 1949 ideologi komunis juga digunakan untuk melawan kekuasaan kapitalis. Pada tanggal ini Mao Tse Tung memproklamirkan berdirinya Republik Rakyat Tiongkok dengan ide komunis sebagai haluan politiknya.

Sedangkan di Indonesia, paham komunisme mulai berkembang pada awal abad ke-20. Paham itu pertama kali dikenalkan oleh Henk Sneevlit yang pada awalnya mendirikan Indische Sociaal-Democratsche Vereninging (ISDV). Kemudian pada tahun 1920 ISDV berubah nama menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI).


.
 
970557_720.jpg

Buku-Buku yang Pernah Dirazia karena Dianggap Berbau Komunis

TEMPO.CO, Jakarta - Berita tentang penyitaan terhadap buku-buku berhaluan kiri, memuat paham komunisme, atau berbau PKI oleh aparat kerap terdengar. Hal ini umumnya dilakukan dengan dalih menegakkan TAP MPRS Nomor 26 Tahun 1966 tentang larangan penyerapan paham komunisme.

Salah satu contohnya terjadi di toko buku Nagare Boshi di Kota Padang, Sumatera Barat pada awal 2019. Aparat yang tergabung atas unsur TNI, Kepolisian, dan Kejaksaan Negeri menyita enam eksemplar dari tiga judul yang berbeda, yakni 'Mengincar Bung Besar', 'Kronik 65', dan 'Jasmerah',"

Kejadian serupa terjadi pula di Kraksaan, Probolinggo, Jawa Timur, Juli 2019. Saat itu dua mahasiswa ditangkap petugas karena membawa buku biografi DN Aidit ke lapak bacaan Alun-alun Kraksaan. Petugas menyita buku ‘Aidit Dua Wajah Dipa Nusantara’, ‘Sukarno Marxisme Dan Leninisme Akar Pemikirian Kiri Dan Revolusi Indonesia’, ‘Menempuh Jalan Rakyat, DN Aidit’, dan ‘Sebuah Biografi Ringkas DN Aidit’ oleh TB empat Saudara.

Berikut beberapa buku lainnya yang dicap bermuatan komunis dan pernah dirazia seperti dikutip dari artikel Habis Gelap Terbitlah Terang, Sudah Terbit Malah Dilarang yang tayang di KontraS.org


Orang-orang Di Persimpangan Kiri Jalan

Buku yang ditulis Soe Hok Gie diterbitkan oleh Bentang Pustaka 1977. Buku ini membahas pemberontakan PKI di Madiun pada 1948 dan menceritakan konflik internal PKI serta mendeskripsikan latar belakang dari beberapa komunis masa itu.

Dalam buku ini diceritakan sebab-sebab meletusnya pemberontakan Madiun 1948. Silang pendapat antara Musso dan Tan Malaka mengenai rencana pemberontakan Madiun.

Aidit: Dua Rupa Wajah Dipa Nusantara

Buku ini mulanya rangkaian reportase mengenai Dipa Nusantara Aidit di Majalah Tempo edisi 1 Oktober 2007. Seri Buku Tempo Orang Kiri Indonesia terbitan KPG ini menceritakan masa kecil Aidit hingga sepak terjangnya sebagai ketua PKI. Juga dibahas tentang Aidit pada saat terjadi peristiwa G30S.

Di Bawah Lentera Merah

Buku ini menjelaskan Sarekat Islam, salah satu bentuk pergerakan rakyat Indonesia di awal abad ke-20, di Semarang pada 1917 sampai dengan 1920. Buku ini merupakan hasil tugas akhir skripsi Soe Hok Gie di jurusan Sastra Universitas Indonesia.

Buku ini menerangkan tentang latar belakang sosial masyarakat pendukung Sarekat Islam di Semarang pada tahun 1917-1920 yang tadinya didominasi oleh kaum menengah dan pegawai negeri menjadi kaum buruh dan rakyat kecil. Dalam buku ini menyebutkan perubahan tersebut melahirkan gerakan marxisme pertama di Indonesia.

Sukarno, Orang Kiri, Revolusi, dan G30S 1965

Buku karya Ong Hok Ham ini diterbitkan oleh Komunitas Bambu. Buku ini adalah perpaduan antara pengalaman empiris dan ulasan sejarah terhadap Sukarno juga menggambarkan persinggungan Ong dengan kelompok kiri, revolusi, dan G30S 1965, PKI dan tragedi setelahnya.



RAHMAT AMIN SIREGAR
 
Back
Top